Halaman

Kamis, 17 Februari 2011

KEPEMIMPINAN ORGANISASI SOSIAL

I. PENGANTAR
Persoalan kepemimpinan selalu memberikan kesan yang menarik.
Literatur-literatur tentang kepemimpinan senantiasa memberikan
penjelasan bagaimana menjadi pemimpin yang baik, sikap dan gaya
yang sesuai dengan situasi kepemimpinan, dan syarat-syarat pemimpin
yang baik. Suatu organisasi akan berhasil atau bahkan gagal sebagian
besar ditentukan oleh kepemimpinan. Suatu ungkapan yang mulia
mengatakan bahwa pemimpinlah yang bertanggungjawab atas
kegagalan pelaksanaan suatu pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahka
suatu ungkapan yang mendudukkan posisi pemimpin dalam suatu
organisasi pada posisi yang terpenting. Demikian juga pemimpin
dimanapun letaknya akan selalu mempunyai beban untuk
mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.
Membicarakan kepemimpinan memang menarik, dan dapat
dimulai dari sudut mana saja ia akan diteropong. Dari waktu ke waktu
kepemimpinan menjadi perhatian manusia. Ada yang berpendapat
bahwa kepemimpinan sama tuanya dengan sejarah manusia.
Kepemimpinan dibutuhkan manusia, karena adanya suatu keterbatasan
dan kelebihan-kelebihan tertentu pada manusia.
Mendalami masalah kepemimpinan sebenarnya ada dua pendapat
yang saling tarik menarik. Yaitu antara apakah pemimpin itu dilahirkan
atau pemimpin itu dibentuk dan ditempa. Pandangan pertama, berkisar
pada pendapat bahwa seorang hanya akan menjadi pemimpin yang
efektif karena dia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.
2
Sedangkan pandangan kedua, berkisar pada pendapat yang mengatakan
bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa.
Sehingga diantara para ahli muncul pendikotomian pandangan tentang
asal usul pimpinan. Paradigma ilmiah yang paling dapat
dipertanggungjawabkan adalah yang terdapat diantara kedua pandangan
yang ekstrem itu.
II. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Keberhasilan maupun kegagalan dari suatu organisasi, apakah
perusahaan, lembaga pemerintah, rumah sakit, ataupun organisasi
sosial lainnya, akan selalu dikaitkan dengan pemimpin dari
organisasi dimaksud. Dengan kata lain, kepemimpinan merupakan
unsur kunci dalam menentukan efektivitas maupun tingkat
produktifitas suatu organisasi. Banyak definisi kepemimpinan yang
dikemukakan para ahli, beberapa diantarnya dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1. Ordway Tead (dalam Kartini Kartono, 1994:49)
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar
mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
2. George R. Terry (dalam Kartini Kartono, 1994:49)
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar
mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.
3. K. Hemphill (dalam M. Thoha, 1996:227)
Kepemimpinan adalah suatu inisiatif untuk bertidak yang
menghasilkan suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari
jalan pemecahan dari suatu persoalan bersama.
4. Prof. Kimball Young (dalam Kartini Kartono, 1994:50)
3
Kepemimpinan adalah bentuk dominasi didasari kemauan pribadi
yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain unuk berbuat
sesuatu, berdasarkan akseptasi atau penerimaan oleh
kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi
situasi khusus.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat ditarik suatu pengertian
bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi, menggeakkan, dan mengarahkan tingkah laku orang
lain atau kelompok untuk mencapai tujuan kelompok dalam situasi
tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas unsur-unsur yang ada
pada kepemimpinan menurut Hadari Nawawi (1995:15) adalah:
1. Adanya seseorang yang berfungsi memimpin, yang disebut
pemimpin.
2. Adanya oang lain yang dipimpin.
3. Adanya kegiatan menggerakkan orang lain, yang dilakukan dengan
mempengaruhi dan mengarahkan perasaan, pikiran, dan tingkah
lakunya.
4. Adanya tujuan yang hendak dicapai, baik yang dirumuskan secara
sitematis maupun bersifat sukarela.
5. Berlangsung berupa proses didalam kelompok atau organisasi, baik
besar maupun kecil, dengan banyak maupun sedikit orang yang
dipimpin.
Untuk dapat mempengaruhi, menggerakkan, dan mengarahkan
orang lain, pemimpin membutuhkan kemampuan dan ketarampilan serta
sifat-sifat yang memadai untuk melaksanakan kegiatnnya. Sehubungan
4
dengan hal tersebut Ordway Tead (dalam Kartini Kartono, 1994:38)
mengemukakan kemampuan dan sifat pemimpin sebagai berikut:
1. Energi jasmani dan mental, yaitu pemimpin mempunyai daya tahan,
keuletan, kekuatan atau tenaga yang istimewa. Demikian juga
didukung dengan semangat juang, motivasi kerja, disiplin, dan
kesabaran.
2. Kesadaran akan tujuan dan arah, yaitu pemimpin memiliki keyakinan
yang teguh akan kebenaran dan kegunaan dari semua perilaku yang
dikerjakan pemimpin tahu persis kemana arah yang akan ditujunya
dan memberi manfaat bagi dirinya dan kelompok.
3. Antusiasme, yaitu pekerjaan yang dilakukan dan tujuan yang akan
dicapai membangkitkan, optimisme, dan semangat besar pada
pribadi pemimpin maupun anggota kelompok.
4. Keramahan dan kecintaan, yaitu kasih sayang dan dedikasi
pemimpin bisa menjadi tenaga penggerak yang positif untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan bagi semua
pihak. Sedangkan keramahan juga memberikan pengaruh pemimpin
dalam mencapai tujuan.
5. Integritas, yaitu dengan segala ketulusan hati dan kejujuran,
pemimpin memberikan ketauladanan, agar dia patuhi dan diikuti oleh
anggota kelompoknya.
6. Penguasaan teknis, yaitu pemimpin harus memiliki satu atau
beberapa kemahiran teknis tertentu, agar ia mempunyai kewibawaan
dan kekuasaan untuk memimpin kelompoknya.
7. Ketegasan dalam mengambil keputusan, yaitu mengambil keputusan
secara tepat, tegas, dan cepat sebagai hasil dari kearifan dan
pengalamannya.
5
8. Kecerdasan, yaitu kemampuan pemimpin untu melihat dan
mematuhi dengan baik, mengerti sebab dan akibat kejadian,
menemukan hal-hal yang krusial, dan cepat menemukan cara-cara
penyelesaiannya dalam waktu yang singkat.
9. Keterampilan mengajar, yaitu pemimpin harus mampu menuntun,
mendidik, mengarahkan, mendorong, dan menggerakkan anak
buahnya atau anggotanya untuk berbuat sesuatu.
10. Kepercayaan, yaitu bahwa para anggota pasti dipimpin dengan baik,
dipengaruhi secara positif dan diarhkan pada sasaran-sasaran yang
benar.
III. PENDEKATAN TEORI KEPEMIMPINAN
Dalam upaya melaksanakan kepemimpinan yang efektif,
selain memiliki kemampuan dan keterampilan dalam kepemimpinan,
seorang pemimpin sebaiknya menentukan gaya kepemimpinan yang
tepat sesuai dengan situasi dan kondisi anggota kelompok. Banyak
studi ilmiah yang dilakukan oleh banyak ahli mengenai
kepemimpinan, dan hasilnya berupa teori-teori tentang kepemimpinan.
Sehingga teori-teori yang muncul menunjukkan perbedaan. Menurut
Kartini Kartono (1994:61) perbedaan-perbedaan tersebut antara lain
dalam; pendapat dan uraiannya, metodologinya, intepretasi yang
diberikan dan kesimpulan yang ditarik.
Menurut M. Thoha (1994:250) mengungkapkan beberapa teori
kepemimpinan yaitu:
1. Teori Sifat ( Trait Theory)
Pada pendekatan teori sifat, analisa ilmiah tentang
kepemimpinan dimulai dengan memusatkan perhatiannya pada
pemimpin itu sendiri. Yaitu apakah sifat-siftat yang membuat
6
seseorang itu sebagai pemimpin. Dalam teori sifat, penekanan lebih
pada sifat-sifat umum yang dimilki pemimpin, yaitu sifat-sifat yang
dibawa sejak lahir. Teori ini mendapat kritikan dari aliran perilaku
yang menyatakan bahwa pemimpin dapat dicapai lewat pendidikan
dan pengalaman.
Sehubungan dengan hal tersebut , Keith Davis (dalam
Kartini Kartono, 1994:251) merumuskan empat sifat umum yang
nampaknya mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan efektifitas
kepemimpinan yaitu:
a. Kecerdasan, hasil penelitian pada umunya membuktikan
bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin.
b. Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial, pemimpin
cenderung menjadi matang dan mempunyai perhatian yang
luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial. Dia mempunyai
keinginan menghargai dan dihargai.
c. Motivasi diri dan dorongan berprestasi, para pemimpin secara
relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk
berprestasi. Mereka bekerja berusaha mendapatkan
penghargaan yang intrinsik dibandingkan dengan ekstrinsik.
d. Sikap dan hub ungan kemanusiaan, pemimpin-pemimpin yang
berhasil mau mengakui harga diri dan kekuatan para
pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya.
2. Teori Situasional dan Model Kontingensi.
Dalam model kontingensi memfokuskan pentingnya situasi
dalam menetapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
permasalahan yang terjadi. Sehingga model tersebut berdasarkan
kepada situasi untuk efektifitas kepemimpinan. Menurut Fread
7
Fiedler, kepemimpinan yang berhasil bergantung kepada penerapan
gaya kepemimpinan terhadap situasi tertentu. Sehingga suatu gaya
kepemimpinan akan efektif pabila gaya kepemimpinan tersebut
digunakan dalam situasi yang tepat. Sehubungan dengan hal
tersebut Fiedler (dalam Abi Sujak, 1990:10) mengelompokkan
gaya kepemimpinan sebagai berikut:
a. Gaya kepemipinan yang berorientasi pada orang (hubungan).
Dalam gaya ini pemimpin akan mendapatkan kepuasan apabila
terjadi hubungan yang mapan diantara sesama anggota
kelompok dalam suatu pekerjaan. Pemimpin menekankan
hubungan pemimpin degan bwahan atau anggota sebagai teman
sekerja.
b. Gaya kepemimpinan yang beroreitasi pada tugas.
Dalam gaya ini pemimpin akan merasa puas apabila mampu
menyelesaikan tugas-tugas yang ada padanya. Sehingga tidak
memperhatikan hubungan yang harmonis dengan bawahan atau
anggota, tetapi lebih berorentasi pada pelaksanaan tugas sebagai
prioritas yang utama.
3. Teori Jalan Kecil-Tujuan (Paht-Goal Theory)
Dalam teori Jalan Kecil-Tujuan berusaha untuk
menjelaskan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi,
kepuasan, dan pelaksanaan pekerjaan bawahan atau angotanya.
Berdasarkan hal tersebut, House (dalam M. Thoha, 1996:259)
dalam Path-Goal Thery memasukkan empat gaya utama
kepemimpinan sebagai berikut:
8
a. Kepemimpinan direktif.
Gaya ini menganggap bawahan tahu senyatanya apa yang
diharpkan dari pimpinan dan pengarahan yang khusus
diberikan oleh pimpinan. Dalam model ini tidak ada
partisipasi dari bawahan atau anggota.
b. Kepemimpinan yang mendukung.
Gaya ini pemimpin mempunyai kesediaan untuk
menjelaskan sendiri, bersahabat, mudah didekati, dan
mempunyai perhatian kemanusiaan yang murni terhadap
bawahan atau anggotanya.
c. Kepemimpinan partisipatif.
Gaya kepemimpinan ini, pemimpin berusaha meminta dan
mempergunakan saran-saran dari para bawahannya. Namun
pengambilan keputusan masih tetap berada padanya.
d. Kepemimpinan yang berorientasi pada prestasi.
Gaya kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan
yang menantang para bawahannya untuk berprestasi.
Demikian juga pemimpin memberikan keyakinan kepada
mereka mampu melaksnakan tugas pekerjaan mencapai
tujuan secara baik.
IV. FUNGSI DAN TIPE KEPEMIMPINAN
Dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang efektif, maka
kepemimpinan tersebut harus dijalankan sesuai dengan fungsinya.
Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Hadari Nawawi (1995:74),
fungsi kepemimpinan berhubungn langsung dengan situasi sosial
dalam kehidupan kelompok masing-masing yang mengisyaratkan
bahwa setiap pemimpin berada didalam, bukan berada diluar situasi
9
itu. Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian didalam situasi
sosial kelompok atau organisasinya. Fungsi kepemimpinan menurut
Hadari Nawawi memiliki dua dimensi yaitu:
1. Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan
mengarahkan dalam tindakan atau aktifitas pemimpin, yang
terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinya.
2. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau
keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksnakan
tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan
dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan
pemimpin.
Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, menurut Hadari
Nawawi, secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok
kepemimpinan, yaitu:
1. Fungsi Instruktif.
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa
(isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana
(waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan
dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat
diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin
hanyalah melaksanakan perintah.
2. Fungsi konsultatif.
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai
komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin
dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan
pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang
dipimpinnya.
10
3. Fungsi Partisipasi.
Dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha
mengaktifkan orang-orang yang dipimpinya, baik dalam
pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap
anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk
berpartisipasi dlam melaksnakan kegiatan yang dijabarkan dari
tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.
4. Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan
pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan.
Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan seorang pemimpin
kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan
wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab.
Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan
perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang
pemimpin seorang diri.
5. Fungsi Pengendalian.
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif
harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan
dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan
tercapainya tujuana bersama secara maksimal. Dalam
melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan
melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan
pengawasan.
11
V. KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI SOSIAL
Setiap individu merupakan bagian dari kelompok, karena
didalam kelompok tersebut ia dipengaruhi oleh orang lain dan oleh
lingkungannya, namun sekaligus ia juga mempengaruhi orang lain dan
lingkungan sekitarnya. Sehubungan dengan hal tersebut kehadiran
manusia lain merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk melestarikan
hidupnya dan mengembangkan diri. Karena dalam suatu kelompok
individu selalu berkomunikasi dan saling memberikan pengaruhnya
kepada individu lain ditengah kelompoknya. Berdasarkan hal tersebut
peran kepemimpinan merupakan suatu hal yang penting dalam rangka
mengembangkan kelompok.
Kelompok menurut kartini Kartono (1994:98) adalah kumpulan
yang terdirii dari dua atau lebih individu, dan kehadiran masing-masing
individu mempunyai arti serta nilai, dan ada dalam situasi saling
mempengaruhi. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka unsur esensial
didalam kelompok adalah saling ketergantungan denagn angota
laiannya. Yaitu saling ketergantungan, dalam mana setiap individu
harus bekerja sama dengan orang lain, dan harus selalu mengingat
keberadaan dan kepentingan orang lain. Di dalam kelompok masingmasing
anggota saling menjaga kekompakan.
Menurut Kartini Kartono, longgar atau kompaknya
ketergantungan para anggota kelompok ditentukan oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah:
1. Besarnya anggota kelompok.
2. Tujuan yang hendak dicapai bersama.
3. Bentuk organisasi yang telah dibangun.
4. Intimitas para anggota satu terhadap yang lain.
12
Sehubungan dengan keberadaan individu-individu dalam
kelompok dimana saling mempengaruhi dan saling mendorong dalam
upaya mencapai tujuan. Maka menurut Kartini Kartono (1994:99) ciriciri
individu didalam kelompok antara lain:
1. Dinamis, selaalu bergerak dan berubah, beraneka ragam gerakannya
dan bebas.
2. Mempunyai potensi, kesanggupan dan kemungkinan untuk
melakukan bermacam-macam aksi atau perbuatan dan peristiwa.
3. Menanggapi orang lain sebagai maklhuk sejenis , sebagai sesama
hidup, dan sebagai subyek yang sederajat.
4. Interaksi dan partisipasi masing-masing anggota kelompok sangat
berkaitan dengan: meningkatnya emosi dan sentimen-sentimen
dalam mencapai pemuasan harapan, berkaitan dengan semakin
jelasnya norma-norma kelompok.
Fungsi kelompok bagi individu:
1. Kelompok memberikan wadah sosial dan ruang hidup psikologis
kepada individu, sehingga memunculkan rasa menjadi anggota dari
satu kelompok, untuk berprestasi dan bekerjasama dengan orang
lain.
2. Menjadi kader referensi untuk mengaitkan diri, sehingga muncul
loyalitas, kesetiakawanan, dan semangat kelompok.
3. Memberikan rasa aman, sehingga orang merasa betah dan kerasan
didalamnya.
4. Memberikan status sosial kepada individu, sehingga dia merasa
dihargai, diakui, diterima merasa mendapat posisi sosial dan
penghargaan dari lingkungannya.
5. Memberikan ideal-ideal, cita-cita, tujuan-tujuan tertentu dan asasasas
perjuangan bagi hidupnya.
13
6. Kelompok dijadikan alat atau wahana untuk mencapai cita-cita
hidupnya, dan untuk membangun bersam-sama.
7. Didalam kelompok, individu merasa menjadi satu bagian dari
kelompok.
Oleh karena individu dalam kelompok timbul suatu kekuatan
saling pengaruh mempengaruhi diantara sesama anggota dan pemimpin.
Maka akan muncul dinamika kelompok dalam wujud bermacam-macam
usha dan tingkah laku. Untuk menggerakkan dinamika kelompok
tersebut dibutuhkan seseorang pemimpin yang berkualitas
kemampuannya dibandingkan anggota lainnya. Sehubungan dengan hal
tersebut, Kartini Kartono (1994:102) mengemukakan tujuh tugas
kepemimpinan dalam kelompok sebagai berikut:
1. Memelihara struktur kelompok, menjamin interaksi yang lancar dan
memudahkan pelaksanan tugas-tugas.
2. Mensinkronkan idelogi, ide, pikiran dan ambisi anggota-anggota
kelompok dengan pola keinginan pemimpin.
3. Memberikan rasa aman dan status yang jelas kepada setiap anggota,
sehingga mereka bersedia memberikan partisipasi penuh.
4. Memanfaatkan dan mengoptimalkan kemampuan, bakat, dan
produktifitas semua anggota kelompok untuk berkarya dan
berprestasi.
5. Menegakkan peraturan, larangan, disiplin, dan norma-norma
kelompok agar yercapai kepaduan atau kohesifenes kelompok,
meminimalisisr konflik dan perbedaan-perbedaan.
6. Merumuskan nilai-nilai kelompok dan memilih tujuan-tujuan
kelompok, sambil menentukan sarana dan cara-cara operasional guna
mencapainya.
14
7. Mampu memenuhi harapan, keinginan dan kebuthan-kebutuhan para
anggota, sehingga mereka puas. Juga membantu adaptasi anggota
terhadap tuntutan-tuntutan eksternal ditengah masyarakat, dan
memecahkan kesulitan-keulitan hidup anggota kelompok.
Berdasarkan uraian tersebut, keberhasilan seorang
pemimpin tidak hanya diukur dari keberhasilannya dalam
menggerakkan individu-individu untuk berbuat saja, tetapi terutama
sekali pada kemampuannya untuk menggerakkan kelompok sebagai
totalitas. Sehingga kelompok dapat berkembang dan mencapai tujuan
bersama.
III. PENUTUP
Demikian sekelumit pengetahuan tentang kepemimpinan
dalam organisasi sosial. Tentunya masih jauh dari yang diharapkan
tetapi paling tidak menggugah dalam proses diskusi maupun bahan
renungan ketika dalam mengelola organisasi kemasyarakatan,
organisasi pelayanan, dan organisasi sejenis. Masih terbuka bagi
pembaca budiman untuk mengkritisi dan menambah dengan ide-ide
konstruktif untuk lebih sempurnanya makalah ini .
Bahan Bacaan:
Kartono, Kartini, (1994), Pemimpin dan Kepemimpinan, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Nawawi, Hadari, (1995), Kepemimpinan yang Efektif, Gajah
Mada Unisity Press, Yogyakarta.
Thoha, Miftah, (1996), Perilaku Organisasi, PT. Raja Erfindo
Persada, Jakarta.
15

Tidak ada komentar: